1 April 2022, pemerintah resmi menaikkan PPN menjadi 11 persen. Kenaikan PPN tersebut dirasakan hampir setiap sektor. Penjualan peralatan tenis meja turut terkena imbasnya. Produk tenis meja yang diimpor dari luar negeri akan mengalami kenaikan. Masih terdapat penjual yang tetap menjual dengan harga sebelumnya.
“Semenjak PPN naik, semua barang tenis meja ikut naik. Apalagi kenaikan biaya material dari pihak produsen, otomatis harga produknya juga ikut naik” ucap Gunawan, penjualan toko tenis meja.
Menurutnya, di luar masalah Ukraina dan Rusia harga barang sudah banyak yang naik. Produk Eropa menjadi yang terbesar dalam kenaikan harganya. Produk karet asal Eropa maupun Jepang menjadi produk yang harganya naik secara merata. Produsen asal Cina pun ikut menaikkan produknya. Dampak inflasi yang kian meningkat, perlahan dirasakan bagi sektor olahraga.
“Karet Eropa yang sebelumnya saya jual 450 ribu, sekarang jadi 475-500 ribu. Banyak juga pembeli yang kaget saat mengetahui harga karet naik. Karet Cina yang harganya murah juga ikut naik. Pembeli harus beradaptasi dengan kenaikan harga produk tenis meja” ucap Gunawan.
Kenaikan harga peralatan tenis meja turut mempengaruhi persediaan barang. Bahan baku yang sulit, hingga efek perang Rusia-Ukraina turut mempengaruhi produksi. Penjualan blade ikut naik akibat ketersediaan kayu yang semakin berkurang. Efek embargo perang juga menyulitkan produsen untuk mendapatkan bahan baku.
“Harga blade ikut naik, bukan hanya karet. Contohnya produk Butterfly Viscaria, sebelumnya saya jual di harga 2,2 juta, sekarang jadi 2,3 juta. Naik seratus ribu. Stok blade juga sedang susah. Mungkin pengaruh stok bahan baku yang berkurang dan efek perang” ucap Gunawan.
Meski berada pada kenaikan produk tenis meja, masih terdapat toko yang mempertahankan harga sebelum mengalami kenaikan PPN. Toko yang fokus berjualan secara online, hanya sebagian kecil dagangannya yang menaikkan harganya. Perbedaan supplier menjadi faktor utama penjual dalam menentukan harganya. Harga di setiap toko biasanya saling berbeda satu sama lain.
“Beda toko, biasanya beda harga juga. Ada yang belum menaikkan harga dagangannya, ada juga yang sudah. Biasanya kami sebagai penjual mengikuti harga dari supplier. Penjual barang secara online biasanya tidak menaikkan harga secara signifikan. Berbeda dengan penjual offline. Mereka perlu membayar uang sewa, makanya harganya cenderung lebih mahal dibanding toko online.” ucap Gunawan.